Risiko Bayi Tabung
Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS)
OHSS adalah keadaan dimana ovarium menghasilkan jumlah sel telur lebih banyak dari normalnya, hal ini bisa dipicu akibat dari efek samping obat penyubur yang diberikan selama proses bayi tabung. Umumnya terjadi pada 2% wanita yang menjalani program ini.
Selain pemberian obat penyubur, wanita yang terlalu kurus, atau terlalu gemuk dan memang memiliki jumlah sel telur banyak juga bisa mengalami sindrom ini. Adapun tanda-tanda dan gejala yang dialami berupa sakit perut ringan dan sampai sesak nafas, serta peningkatan berat badan. Sebaiknya, segera hubungi dokter jika melihat gejala ini.
Kelahiran Kembar
Sekitar 17% kasus bayi tabung mengalami kelahiran kembar, akan tetapi kelahiran ini bukan tujuan dari program IVF, apalagi jika dijadikan cara untuk mendapatkan bayi kembar, karena risiko dari kehamilan ini akan mengalami persalinan prematur, yaitu lahir di waktu kurang dari 9 bulan.
Komplikasi lain yang bisa dipicu dari kelahiran kembar juga akan mengancam kesehatan ibunya, seperti keguguran, preeklampsia, diabetes gestasiona, anemia dan pendarahan hebat. Sekalipun hal ini masih bisa ditanggulangi dengan mengurangi jumlah embrio yang ditanamkan waktu proses bayi tabung.
Kehamilan di Luar Kandungan
Kehamilan di Luar kandungan atau di sebut kehamilan ektopik bisa terjadi karena embrio yang seharusnya tertanam di dinding rahim, justru menempel selain di rahim, misalnya di tuba falopi, rongga perut atau leher rahim. Jika hal ini terjadi, maka akan mengalami sakit perut hebat, keputihan berwarna gelap atau keruh dan keluar bercak darah ringan.
Time Lapse Technology
Meskipun sudah dijelaskan bahwa kerap terjadi kegagalan dalam program bayi tabung, atau adanya risiko yang membahayakan, program yang memungkinkan orang tua mendapatkan keturunan ini, masih banyak dijalankan. Karena itulah, teknologi bayi tabung dari waktu ke waktu selalu di tingkatkan.
Sekarang sudah ada teknologi yang memungkinkan terjadinya pembuahan lebih cepat, efektif dan efisien, yaitu Time Lapse Technology. Teknologi ini merupakan teknologi lanjutan dari teknologi IVF sebelumnya, yaitu dengan meletakan sperma dan sel telur di dalam cawan dan proses pembuahan bisa di pantau secara keseluruhan untuk menemukan embrio terbaik.
Embrio terbaik ini nantinya yang akan ditransfer ke dalam rahim calon ibu. Embryoscope adalah perangkat yang digunakan untuk memantau proses pembuahan itu, merupakan gabungan antara Incubator dan kamera yang dapat menghasilkan rekaman foto-foto selama proses penyatuan sel telur dan sperma.
Dengan menggunakan alat ini, maka presentasi kehamilan bayi tabung bisa meningkat menjadi 56%.Hal ni karena pemilihan embrio terbaik dapat menurunkan kegagalan pada program bayi tabung dan kemungkinan adanya kelainan kromosom karena perkembangannya dipantau terus -menerus.
Kegagalan bayi tabung biasanya terjadi pada tahap penting, seperti keterlambatan perkembangan embrio sehingga meningkatkan adanya mutasi gen (aneuploidi). Aneuploidi ini diketahui sebagai penyebab utama terjadinya kelainan kromosom, seperti Down Syndrom yang terjadi pada anak saat berhasil dilahirkan, namun kebanyakan bernasib keguguran.
Sebuah riset dilakukan oleh Alison Campbell pada bidang IVF selaku Embryology Director, mengenai Time Lapse Technology dapat menekan adanya yang berisiko tinggi aneuploidi menempel di dinding rahim atau mengalami implantasi, dan jika embrio tidak aneuploidi menempel pada dinding rahim maka merujuk pada kemungkinan IVF berhasil.
Saat ini, Time Lapse Technology untuk program bayi tabung sudah ada di klinik Morula Jakarta. Jika tetap ingin melanjutkan program bayi tabung ini, sebaiknya melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan dokter dan mengetahui biaya apa saja yang harus dikeluarkan untuk prosedurnya.
Sebenarnya, ada alternatif lain selain bayi tabung yaitu inseminasi. Proses ini dilakukan dengan memasukan sperma ke dalam rahim sampai proses pembuahan terjadi. Berbeda dengan proses bayi tabung yang mengeluarkan sperma dan sel telur dari rahim untuk dilakukan pembuahan.
Cara inseminasi lebih efektif jika wanita masih muda dan subur, namun jika berusia di atas 35 tahun, program bayi tabung memang yang lebih cocok agar tidak terlalu membuang waktu.


































