Mengupas 10 Mitos Kesehatan Yang Menjamur di Masyarakat

0
317

Ada banyak sekali mitos yang tersebar di kalangan masyarakat Indonesia dan bisa Anda temukan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah seperti seorang perempuan tak boleh berdiri di depan pintu karena bisa menghalangi datangnya jodoh. Atau mungkin jangan pergi ke pantai selatan dengan baju hijau, nanti bisa terseret ombak. Terdengar tak masuk akal memang, tapi mitos itu begitu kuat pengaruhnya.

Dalam perkembangannya, mitos juga muncul di berbagai sendi kehidupan termasuk yang erat kaitannya dengan medis alias kesehatan. Belum ada penelitiannya secara ilmiah, mitos-mitos kesehatan ini justru sudah tersebar kuat dan diyakini kebenarannya. Bahkan karena terlalu kuat, sampai-sampai fakta ilmiah dipinggirkan seperti mitos bahwa karbohidrat menyebabkan obesitas.

Mitos ini jelas-jelas membuat dr Spencer Nadolsky emosi berat. Karena penulis buku The Fat Loss Prescription sekaligus dokter kesehatan keluarga asal Maryland, Amerika Serikat ini memiliki penjelasan kuat. Menurut Nadolsky, apa yang membuat seseorang bisa obesitas adalah lemak tak jenuh, alih-alih karbohidrat. Supaya Anda tidak selamanya keliru, berikut ini ada beberapa mitos kesehatan di masyarakat yang keliru.

Mitos Kesehatan Sekaligus Fakta Sebenarnya

Tubuh Gemuk Metabolisme Lambat

Tak bisa dipungkiri kalau body shamming masih menjadi hal lumrah di kalangan masyarakat. Anda mungkin terbiasa mendengar seseorang dihina karena memiliki tubuh besar dan gemuk. Salah satu hinaan yang mungkin sering muncul adalah ‘Badan gemuk banget sih, bahaya. Gerakmu lambat, kasihan tubuh kamu, kerja keras’. Hal ini memicu persepsi bahwa mereka yang gemuk punya kinerja metabolisme yang buruk.

Padahal tahukah Anda kalau para ilmuwan sudah menyanggah mitos ini. Karena pada dasarnya, mereka yang memiliki kelebihan berat badan, punya metabolisme lebih baik dan lebih cepat daripada yang kurus. Cukup masuk akal karena orang-orang gemuk pada dasarnya jauh lebih cepat lapar dan berkeringat daripada mereka yang ramping.

Orang Dewasa Tak Perlu Vaksin

Untuk mencegah beberapa wabah penyakit, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merumuskan vaksin yang harus dilakukan. Mayoritas vaksin memang diberikan saat seseorang masih berusia bayi. Ada beberapa vaksin yang wajib dilakukan seperti campak, BCG hingga hepatitis. Pemberian vaksin diyakini membuat seseorang lebih kebal terhadap beberapa jenis penyakit.

Namun hal ini menimbulkan mitos bahwa hanya anak-anak dan bayi saja yang membutuhkan vaksin, sementara orang dewasa tidak. Termasuk yang percaya? Maka sebaiknya segera ubah pemikiran Anda karena orang dewasa faktanya juga butuh vaksinasi. Tentu saja jenis vaksin dan dosis berbeda untuk orang dewasa. Beberapa vaksinasi untuk dewasa seperti HPV, flu, hepatitis A, hepatitis B dan MMR.

Minum Wajib Delapan Gelas Sehari

Salah satu iklan kesehatan yang sudah melekat kuat di benak masyarakat adalah anjuran untuk minum delapan gelas dalam sehari. Anjuran ini bahkan sudah jadi mitos kuat yang seolah-olah wajib dilakukan. Jika seseorang minum air putih hingga delapan gelas sehari, akan memiliki efek positif kepada kesehatan tubuh seperti ginjal pada kulit. Padahal faktanya, tidak ada satupun penelitian medis yang membuktikannya.

Yap, tidak ada kaitan sama sekali antara minum delapan gelas sehari dengan kesehatan. Kulit tidak akan terjadi apa-apa sekalipun Anda minum kurang dari delapan gelas sehari. Karena dampak buruk barulah terlihat saat Anda ada pada level dehidrasi maksimal hingga mendekati kematian. Belum lagi kebanyakan minum air bisa meningkatkan risiko keracunan air dan Hiponatremia karena natrium menurun.

Begitu pula dengan anggapan bahwa semakin banyak minum air putih, maka bisa mengurangi jerawat. Yang benar adalah kulit dengan kadar kelembapan air tepat, bisa membuat regenerasi lebih cepat sehingga jerawat tak muncul. Karena tak ada kaitannya sama sekali dengan berapa banyak air yang diminum, maka lebih baik Anda minum saat benar-benar baru merasa dehihdrasi alias kehausan.

Makanan Jatuh Lima Detik Tak Masalah

Pernahkah saat Anda sedang enak-enak makan, tiba-tiba terlepas dan jatuh dari mulut? Apa yang akan Anda lakukan? Biasanya beberapa orang akan langsung membuangnya, tapi ada juga yang memungutnya dan dimakan kembali disertai kalimat ‘Ah, belum lima menit nggak masalah. Belum kotor’. Hal ini pun berkembang menjadi mitos bahwa makanan jatuh belumlah kotor selama tidak lebih dari lima menit lamanya.

Faktanya hal ini salah besar karena sekalipun makanan Anda yang jatuh baru saja menyentuh tanah selama satu detik, sudah bisa terkontaminasi bakteri. Karena ternyata bakteri hanya butuh waktu milidetik untuk mencemari makanan. Meskipun memang makanan basah akan cenderung lebih mudah menangkap bakteri dibandingkan makanan kering. Tapi tetap saja, semua kotor meski belum lima menit.

Demam Dilarang Makan Es

Saat Anda sakit demam, siapapun akan melarang Anda minum es. Karena selama ini mitosnya adalah es itu dingin dan jika dikonsumsi seseorang yang sedang sakit, maka akan membuat suhu tubuh makin bermasalah dan tidak sembuh-sembuh dari demam. Padahal hal ini keliru dalam kacamata kesehatan. James M Steckelberg M.D di situs Mayo Clinic menyebut olahan beku tak memiliki dampak ke tubuh yang tengah flu.

Steckelberg menjelaskan kalau tidak ada kaitannya mengonsumsi es krim atau susu beku dengan dahak alias lendir yang semakin banyak dan makin membuat tenggorokan sakit. Bahkan menurut Steckelberg, susu beku malah mampu meredakan sakit tenggorokan. Selain itu, susu dan es krim juga bisa jadi kalori tambahan di saat Anda malas makan waktu demam karena mulut terasa pahit.

Produk Segar Lebih Baik Daripada Beku

Saat Anda disuruh memilih, mau membeli sayuran segar di pasar tradisional yang baru saja dipetik atau sayuran yang sudah dibekukan di supermarket, mana yang dipilih? Mungkin mayoritas akan membeli sayur segar di pasar saja. Karena memang selama ini mitos yang ada adalah produk segar jauh lebih baik daripada produk beku. Namun tahukah Anda kalau mitos ini masih banyak yang meragukannya.

Karena sejauh ini, penelitian yang dilakukan justru memberikan jawaban sebaliknya. Terungkap bahwa ternyata buah dan sayuran yang beku memiliki gizi setara dengan buah segar yang dikemas waktu benar-benar matang.

Alkohol Membunuh Sel Otak

Sejauh ini alkohol selalu memiliki berbagai pro-kontra di segi kesehatan. Salah satunya adalah mitos jika mengonsumsi alkohol bisa membuat sel otak mati. Padahal sebetulnya yang terpengaruh langsung oleh alkohol adalah neuron alias saraf bukan sel otak langsung. Secara teknis, zat kimia dalam alkohol merusak dendrit, sel otak bagian ujung yang bercabang dan jika terus-menerus bisa merusak memori.

Meskipun begitu, percayalah kalau sel otak sama sekali tidak mati. Selain itu jika sel otak mati, masih ada prosedur medis yang dilakukan untuk mengobatinya yakni Neurogenesis yang mampu menghasilkan neuron baru di Hippocampus, bagian otak yang menyimpan kemampuan belajar, emosi dan ingatan jangka panjang.

Selain mitos membunuh sel otak, alkohol juga dipercaya mampu menghangatkan tubuh. Ini adalah mitos yang keliru juga karena faktanya, alkohol mampu memindahkan darah hangat lebih dekat ke permukaan kulit. Efek plasebo inilah yang justru sebetulnya membuat Anda kehilangan panas tubuh.

Duduk di Depan TV Itu Buruk

Biasanya orangtua melarang anaknya menonton di depan TV langsung karena bisa membuat mata rusak. Apakah mitos ini benar adanya? Jawabannya adalah keliru. Karena sekalipun Anda menonton TV dari jarak dekat, mata tidak akan rusak. Satu-satunya masalah yang akan muncul saat menonton TV entah dari jarak jauh atau jarak dekat adalah mata menjadi lelah dan membuat sakit kepala.

Untuk anak kecil, bahkan menonton TV dari jarak dekat lebih baik. Setidaknya hal itu diungkapkan oleh American Academy of Opthalmology, di mana anak-anak akan jauh lebih fokus saat duduk di depan TV, tanpa membuat matanya lelah seperti layaknya orang dewasa.

Baca Saat Cahaya Redup Bikin Mata Rusak

Ruangan dengan penerangan yang remang-remang alias redup, kadang dihindari banyak orang. Karena memang selama ini mitos yang berkembang adalah cahaya lemah bisa berpengaruh buruk ke mata. Bahkan lebih lanjut, orangtua kerap kali marah dan melarang anak-anak mereka membaca di ruangan yang berpenerangan redup karena hal ini bisa membuat mata mereka rusak. Namun apakah itu memang benar?

Fakta yang ada adalah membaca di ruangan remang-remang sama sekali tak memberikan pengaruh ke penglihatan Anda. Memang membaca di ruangan yang cenderung bercahaya redup bisa membuat mata lelah, tapi meskipun dilakukan dalam jangka panjang, sama sekali tak menimbulkan masalah serius ke indra penglihatan. Meskipun memang lebih dianjurkan untuk membaca di pencahayaan tepat.

Pada dasarnya, saat mata dipaksa membaca di ruangan yang bercahaya redup, mata akan sulit fokus. Hal inilah yang justru membuat lelah tapi tidak merusak apapun pada kedua mata Anda.

Bayi Demam Saat Tumbuh Gigi

Usia bayi yang masih hitungan bulan memang kerap membuat orangtua manapun mudah gelisah. Bahkan saat seorang bayi menangis, berbagai hal akan dilakukan secara tergesa-gesa karena berharap sang buah hati segera berhenti terisak. Namun biasanya ada saja mitos yang berkembang di masyarakat untuk para orangtua baru supaya tidak bingung saat anak mendadak nangis hingga demam.

Salah satu mitos yang cukup populer di masyarakat Indonesia adalah bayi demam tinggi selalu dikaitkan tengah tumbuh gigi. Padahal hal ini tak sepenuhnya benar karena tidak semua bayi yang tumbuh gigi pasti demam. Faktanya, bayi dengan usia enam bulan hingga tiga tahun memang memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami infeksi ringan seperti pilek atau flu sehingga sering demam.

Untuk itulah saat bayi Anda terus menangis dan demam jangan santai dulu dan mengira dirinya tumbuh gigi. Ada baiknya Anda berkunjung ke dokter demi memperoleh analisa paling tepat mengenai kondisi sang buah hati. Tak hanya perkara mitos demam saat tumbuh gigi, seharusnya menghadapi mitos-mitos lain seputar kesehatan Anda harus berpikir logis dan jauh lebih percaya pada tenaga medis.

Ada baiknya untuk mencari informasi yang masuk akal dengan membaca berbagai jurnal-jurnal ilmiah untuk membuktikan mitos yang ada. Teknologi sudah berkembang dan informasi semakin pesat ini sudah seharusnya membuat Anda jauh lebih tenang dan mengedepankan kajian ilmiah dalam menghadapi berbagai mitos. Jadi, jangan mudah tertipu dengan mitos yang tak ada bukti kebenarannya, ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here