Wisata Kapal PLTD Apung 1
Pada tahun 2004 silam, sebuah luka besar membungkus Indonesia karena bencana yang menyerang Aceh yaitu Tsunami. Ini kali pertamanya, muncul gelombang sangat tinggi yang langsung menyerang daratan di pesisir Kota Serambi Mekah itu, bahkan akibat dari bencana ini sampai hari ini masih terasa.
Pada hari itu, terlalu tingginya gelombang membuat kapal PLTD Apung 1 dengan berat 2600 ton terhempas begitu saja sejauh 5 kilometer ke daratan di Kampung Punge Blang Cut, yang awalnya bertandang di sekitar pelabuhan Uleelheuhe.
Karena peristiwa naas ini, bangkai kapal itu telah dijadikan sebagai obyek wisata, yang digunakan untuk mengenang peristiwa tersebut. Berbagai renovasi sudah dilakukan, bahkan peningkatan fasilitas membuat kapal PLTD Apung 1 resmi sebagai obyek wisata yang menarik.
Bangkai kapal ini terletak di daerah Gampong Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh. Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel atau PLTD ini, memiliki panjang 63 meter dan lebar 19 meter yang awalnya digunakan untuk menghasilkan listrik sebesar 10 megawatt untuk mengatasi masalah listrik saat itu.
Sebelum datang ke Aceh, kapal ini telah ditugaskan di Pontianak pada 1997, Bali pada 1999 dan kembali ke Pontianak lagi pada tahun 2001. Awalnya, kehadiran kapal ini dimulai karena permintaan Abdullah Puteh, Gubernur Aceh saat itu, untuk menanggulangi krisis listrik disana sementara waktu pada tahun 2003.
Meski kapal ini sudah bertugas selama 1 tahun, perjalanannya resmi berhenti pada tanggal 26 Desember 2004 akibat dari bencana Tsunami. Hari itu, kapal besar ini sedang merapat di pelabuhan untuk mengisi bahan bakar dan tiba-tiba gelombang tinggi sekitar 10 meter yang merenggut 170 ribu nyawa di Aceh, menyeretnya ke daratan. Sungguh gelombang yang sangat dahsyat dan tidak terlupakan.
Lalu 10 tahun kemudian, pada tahun 2014 lalu, untuk mengenang 10 tahun Aceh pasca bencana, presiden Amerika Serikat, Bill Cliton menyempatkan diri mengunjungi Aceh untuk melihat sendiri perkembangan kota setelah bencana.
Meskipun sebelum beliau, sebenarnya sudah banyak wisatawan yang telah datang, bahkan sampai 1000 orang di setiap pekan. Untuk masuk ke tempat ini, mereka sama sekali tidak di pungut biasa masuk, hanya ditawarkan sumbangan seikhlasnya saja. Artikel Selanjutnya tab 1/2/3/4 dibawah































