Waspada Selalu! Ini Akibat Penggunaan Media Sosial pada Perkembangan Anak di Usia Dini.

0
439

Pada hakikatnya, anak-anak di usia dini membutuhkan taman kanak-kanak bukan sebagai sarana untuk membaca, menulis dan menghitung semata, melainkan juga untuk bermain sambil belajar. Bukan hanya pendidikan skolastik, pembelajaran moral juga akan dikembangkan di sana bersama-sama permainan. Karena dengan bermain, anak-anak akan sendirinya belajar dan memahami sesuatu.

Dengan bermain itulah, anak-anak akan memiliki kemampuan bersosialisasi dan komunikasi yang baik, kepada teman sebayanya maupun kepada orang dewasa. Selain itu, permainan juga merupakan cara Anak dalam menjelajah dunia, mengembangkan kreativitasnya, dan menyerap sebanyak-banyaknya ilmu pengetahuan dengan caranya sendiri.

Oleh karena itu, bermain menjadi cara yang penting dalam membesarkan dan mendidik Anak. Akan tetapi, menengok perkembangan teknologi yang semakin hari kian semakin maju, anak-anak yang semula suka bermain, memilih dan merasa lebih asyik dengan menggunakan gadget. Mereka senang berselancar di dunia maya dan perlahan-lahan menjauhi dunia sekitarnya.

Tentu saja, hal ini akan berpengaruh sangat besar terhadap tumbuh kembang Anak. Apalagi ketika anak-anak masih dalam tahap efektif belajar di usia dini. Pada masa-masa ini, si Anak secara besar mengorek informasi sebanyak-banyaknya untuk pertumbuhan. Jika anak terlalu banyak menggunakan media sosial, maka separuh pertumbuhan anak akan dihantui dengan akibat penggunaan aplikasi di gadget ini.

Media sosial sendiri merupakan sebuah media online, yang mana para penggunanya dapat secara mudah berpartisipasi dalam berbagi dan menciptakan isi meliputi jejaring sosial, forum maupun dunia virtual. Sementara internet adalah jaringan komputer yang sangat besar dan luas, yang terdiri dari jaringan-jaringan kecil dan terhubung.

Dengan penggunaan keduanya, memang tidak bisa dipungkiri jika komunikasi dapat lebih mudah dijalin dengan mendekatkan orang-orang yang berjarak jauh. Ditambah lagi jika penggunaannya sekarang, juga dijadikan sebagai sarana untuk promosi dan mencari nafkah, seperti online shop.

Sayangnya, jika tidak diperhatikan baik-baik, media sosial juga akan membawa dampak buruk, terlebih bagi anak-anak. Penggunaan internet dan media sosial secara bebas, membuat anak dengan mudah mengakses konten-konten dewasa yang jelas dilarang dan tidak layak untuk usianya.

Selain itu, dengan mudahnya akses untuk mendapatkan informasi, anak-anak jadi cenderung malas belajar dan hanya bermain sosial media. Mereka memilih asyik dengan dunianya sendiri dan mulai menjauhi orang-orang sekitar. Tidak hanya itu, akibat lainnya juga nampak selama perkembangan anak.

Akibat Buruk Penggunaan Media Sosial

Perkembangan Fisik

Anak-anak yang berinteraksi dengan media sosial dan teknologi elektronik lain, cenderung membatasi aktivitas bergeraknya. Karena teknologi elektronik sendiri memang diciptakan untuk mempermudah pekerjaan manusia tanpa banyak melakukan usaha dan gerakan.

Sekalipun mereka sedang bekerja keras dengan handphone atau komputernya, tetapi hal ini jelas berbeda seperti saat mereka sedan bermain bola di luar rumah bersama teman-temannya.

Kesenangan anak dalam duduk diam di depan komputer akan membuat mereka tidak mau bergerak sehingga dengan mudah terjangkit obesitas, dan penyakit ini akan mengganggu keseimbangan hormonal serta metabolisme tubuh yang menyebabkan kemungkinan timbulnya serangan jantung prematur pada si Anak.

Tidak hanya itu, anak-anak akan berujung pada kelelahan mata hingga penglihatannya kabur atau sakit kepala akibat terlalu banyak terkena radiasi dari layar HP maupun komputer.

Perkembangan Sosial dan Emosi

Hilangnya Privasi dan Munculnya Stalking

Penggunaan media sosial mengharuskan orang-orang mencantumkan identitasnya secara lengkap dan terperinci, sesuai dengan biodata resmi mereka. Hal ini juga terjadi kepada anak-anak, mereka harus menyerahkan privasi dan data diri mereka agar bisa menggunakan media sosial.

Selain itu, mereka juga rentan dalam meng-explore diri untuk kegiatan seperti memamerkan foto dan kegiatan mereka secara nyata. Tentu saja, karena media sosial memang bertujuan untuk menambah jaringan komunikasi, maka akses-akses pribadi si Anak yang dengan sengaja tersebarkan itu juga ikut dikonsumsi publik. Akibatnya anak kehilangan privasi mereka.

Selain itu, dengan mengumbar seluruh kegiatan pribadi, juga akan memicu kejahatan terhadap anak seperti penguntitan atau stalking. Karena akses media sosial yang begitu mudah maka jenis kejahatan ini pun juga dipermudah, sehingga lebih membahayakan si Anak.

Bullying

Bullying dimulai ketika ada yang tidak menyukai postingan seseorang, lalu mulai menghujat, menyalahkan dengan memberikan komentar jahat pada orang tersebut, sementara maksud postingannya sendiri, belum tentu bersifat menyinggung dan hanya disalahartikan saja.

Apabila kejadian ini dialami oleh anak, maka hal itu jelas mengganggu tumbuh kembangnya. Si Anak akan merasa takut dan cemas, lalu berakibat mengganggu sosialisasi-nya. Mereka lebih suka menyendiri karena merasa salah dan sebagainya, persis seperti korban bullying lainnya. Padahal, postingan yang si Anak buat, tidak mengandung maksud buruk sama sekali.

Stranger-Danger

Sebelumnya, pembuatan media sosial ini memang bertujuan untuk mempermudah komunikasi dengan menghubungkan orang-orang yang jauh bahkan tidak dikenal sekalipun. Jika anak yang cenderung polos dan sering menanggapi orang-orang yang tidak dikenalnya, maka perkenalan tersebut bisa memicu penculikan dan membahayakan kehidupan nyata si Anak.

Apalagi lewat sosial media, tidak hanya komunikasinya saja yang dipermudah tapi metode kejahatan juga bisa dimudahkan. Oleh karena itu, pengguna seharusnya lebih selektif dalam menggunakan sosial media. Akan tetapi, anak-anak yang masih di bawah umur, belum cukup memahami dampak buruk ini, sehingga membutuhkan pengawasan lebih dari orang dewasa.

Kecemasan

Kecemasan yang ditimbulkan akibat penggunaan media sosial oleh si Anak ini, adalah rasa cemas karena kecanduan. Mereka cenderung tidak bergairah sebelum mengakses media sosialnya. Jika kebetulan internet yang digunakan sedang ada gangguan atau orang tua mengalihkan sebentar perhatiannya, maka si Anak cenderung merasa cemas berlebihan.

Depresi

Apabila si Anak terlalu sering menggunakan sosial media, maka lama kelamaan, sosialisasi-nya terhadap orang sekitarnya jadi menjauh. Anak lebih suka berdiam diri di rumah, memainkan internetnya dan tidak ingin keluar. Jika terus seperti itu, maka tingkat depresi si Anak akan meningkat menjadi lebih mengkhawatirkan.

Perkembangan Inteligensi

Dengan menggunakan internet dan komputer, tidak salah lagi jika membantu proses belajar mengajar. Hal inipun dijadikan alasan sekolah dan rumah menggunakan komputer sebagai salah satu cara belajar anak. Akan tetapi, penggunaan alat elektronik ini justru menimbulkan dampak buruk bagi kecerdasan si Anak.

Menurut beberapa ahli, bahwa penggunaan otak anak di jaman sebelum menggunakan alat elektronik lebih besar dibanding anak sekarang. Sehingga sangat dianjurkan, memberikan metode pengajaran yang efektif dalam membantu meningkatkan penggunaan otak dan kecerdasan si Anak.

Selain itu, anak-anak yang lebih sering menggunakan internet dan media sosial akan lebih sulit dalam belajar, mereka menjadi tidak terampil dan hanya bisa berkonsentrasi pada satu hal saja dalam satu waktu yang lama, sehingga kesulitan menghadapi keadaan yang membutuhkan solusi cepat.

Perkembangan Moral

Mengingat dengan internet, maka segala kegiatan jadi lebih mudah. Tentu saja, maka akses konten porno yang dilarangpun jadi lebih mudah. Hal ini jelas membahayakan perkembangan moral anak. Apalagi dengan tanpa pengawasan orang tua dan guru, perilaku anak akan semakin buruk.

Bisa jadi, mereka meniru dan menerapkan perilaku buruk yang ditonton di media sosial, untuk dilakukan di dunia nyata pada teman sebayanya. Jika bukan si Anak yang menjadi pelaku kejahatan, maka bisa juga si Anak yang menjadi korban kejahatannya.

Selain itu, ancaman dari komentar negatif dan ujaran kebencian di dalam media sosial, mungkin juga kan terbawa ke dunianya. Ketika dalam bersosialisasi langsung, jika anak menemukan anak yang lainnya memberikan sikap menentang, maka anak tersebut akan mencoba membalas menentang atau semacamnya.

Hak dan sikap seperti ini hanya bisa dirasakan di dunia nyata, yang berpotensi mengembangkan moralnya. Sementara hal ini, sama sekali tidak bisa didapatkan di dunia maya.

Penggunaan mereka di dunia maya juga akan memicu dalam pemalsuan identitas, sehingga ketika dia berbuat salah maka akan terhindar dari hukuman. Jika hal ini terbawa ke dunia nyata, maka si Anak akan kehilangan rasa tanggung jawabnya.

Tidak hanya itu, anak akan mulai membuat peraturan baru yang sesuai dengannya, dan mulai mengabaikan peraturan yang ada di dunia nyata. Hal ini akan memicu sikap acuh tak acuh pada diri si Anak.

Nah, itu semua adalah akibat dari penggunaan media sosial untuk perkembangan anak di usia dini. Agar bisa meminimalisir efeknya, maka pemberian teknologi informasi dan elektronik sangat perlu dibatasi dan diawasi langsung oleh orang tua atau orang dewasa.

Orang tua perlu secara aktif berpartisipasi dalam semua kegiatan anak, dan mengarahkannya ke jalan yang benar saat si Anak mulai terpengaruh hal buruk lewat jejaring sosial tersebut. Sekalipun penggunaan media sosial sebenarnya tidak hanya memberikan akibat yang buruk.

Tentu saja, karena memang media sosial diperuntukkan untuk mempermudah pekerjaan orang. Bagi anak pula, penggunaan sosial media juga ada baiknya dan hal ini juga bisa dijadikan pertimbangan bahwa media sosial tidak selamanya buruk.

Akibat Positif Media sosial

Perkembangan Fisik

Internet bertujuan mempermudah dalam mencari informasi, maka si Anak juga mudah saat ingin mencari informasi positif, seputar gaya hidup sehat, cara terhindar dari penyakit, teknik olah raga yang baik, metode menggambar yang benar, dan sebagainya. Hal ini tentu berdampak positif pada perkembangan fisik si Anak.

Perkembangan Sosial dan Emosi

Dalam perkembangan sosial dan ekonomi ini ada tiga hal yakni menambah teman, saling berbagi, dan juga saling membantu.

Menambah Teman

Menggunakan sosial media, berarti anak dalam upaya menambah temannya. Mereka akan saling berkenalan dari kota-kota lain yang tidak bisa ditemui secara langsung. Bahkan tidak jarang dari mereka, bertemu dan berkomunikasi dengan kerabat jauh yang lama saling tidak menghubungi.

Saling Berbagi

Melalui media sosial juga, terdapat kelompok-kelompok positif yang dapat mengembangkan kemandirian dan kreatifitas si Anak. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika orang tua mengarahkan anak untuk masuk dalam kelompok-kelompok tersebut, dan tentunya dengan pengawasan.

Saling Membantu

Tidak jarang sekali, jika melalui media sosial, kegiatan sosial jadi ikut terbantu dan marak dalam mencari donasi atau relawan. Dengan media sosial yang menggunakannya sebagai kegiatan amal, maka sangat berpeluang jika si Anak bisa ikut berpartisipasi dan membantu agar jiwa menolong serta kepedulian-nya meningkat.

Perkembangan Inteligensi

Anak-anak yang kerap menggunakan media sosial cenderung lebih multitasking dibanding yang tidak menggunakannya. Hal ini dipengaruhi karena penginderaan visual mereka lebih baik, sebab sudah terbiasa menyerap banyak informasi visual sekaligus selama menggunakan gadget atau media sosial.

Perkembangan Moral

Di media sosial, banyak postingan mengenai acara amal yang diadakan oleh masyarakat. Melalui hal itu, anak-anak akan ikut berpartisipasi serta menumbuhkan jiwa solidaritasnya, karena bersedia membantu dan terlibat secara langsung pada acara sosial yang diikuti di media sosialnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here