Tips Paling Efektif Mendidik Anak di Usia Emas

0
4161

Beberapa TipsPaling Efektif Mendidik Anak di Usia Emas

Menjadi Pendengar yang Baik Bagi Anak

Hal pertama yang bisa dilakukan agar anak bisa tumbuh dan berkembang dengan baik pada usia keemasan ialah dengan menjadi pendengar yang baik baginya. Dalam hal ini, setelah memahami apa yang sedang dirasakan anak, sudah sepatutnya orangtua juga turut memberikan dukungan sebagai penguat bagi si anak.

Hal tersebut akan sangat berarti bagi anak. Terlebih lagi bagi anak yang besar kemungkinan mengalami ejekan dari teman-teman sebayanya. Pendekatan dilakukan guna merangsang anak agar mau menceritakan masalahnya. Setelah itu, tugas orangtua adalah mendengarkan serta memberikan dukungan. Dengan demikian, anak tidak kehilangan semangatnya dan tetap punya kepercayaan diri.

Bersikap Lemah Lembut dan Menunjukkan Kasih Sayang

Rasa sayang tentu akan selalu ada untuk anak. Namun lebih dari itu, orangtua harus mampu memberikan pemahaman akan kasih sayang tersebut. Cara terbaik untuk menunjukkan kasih sayang orangtua pada anak di usia keemasan adalah dengan bersikap lemah lembut serta menunjukkan kasih sayang yang tulus.

Anak pada usia keemasan memang lebih paham bahwa ketulusan maupun kasih sayang hanya akan berwujud dalam bentuk kelembutan. Untuk itu cobalah memahaminya dan tunjukkan ketulusan itu. sebagai orangtua, hal yang bisa dilakukan ialah meyakinkan anak bahwa ia punya orangtua yang senantiasa sayang padanya.

Tidak ada salahnya mengungkapkan hal yang demikian dengan kata-kata lembut. Katakanlah pada si anak kalimat-kalimat kasih sayang. Selain itu, tindakan juga bisa dilakukan orangtua sebagai wujud dari kasih sayang. Misalnya saja dengan pelukan dan juga ciuman. Dengan demikian, tentu anak akan lebih mudah mendengarkan orangtuanya.

Sebisa Mungkin Hindarilah Kata “Jangan”

Tips yang satu ini memang tampaknya sepele dan sebagian orangtua kerap kali melakukannya. Kata “jangan” tentu bukanlah sesuatu yang buruk, namun akan buruk jika itu dikatakan kepada anak-anak. Hal yang terekam pertama kali saat menyebutkan kata jangan adalah larangan atas suatu tindakan.

Hal yang demikian inilah yang tidak menutup kemungkinan bisa membuat anak menjadi takut untuk melakukan sesuatu. Otomatis, kreatifitas yang dimiliki si anak bisa terhambat dengan rasa takut akan sebuah larangan orangtua.

Adapun hal yang sebaiknya dilakukan orangtua adalah mengganti kata alternatif lainnya. Banyak kata-kata yang lebih terkesan positif jika dibandingkan dengan kata “jangan”. Misalnya saja kata larangan “jangan berlari” bisa diganti dengan perintah “pelan-pelan saja”. Berusahalah semaksimal mungkin untuk menghindari kata “jangan”.

Jangan Sesekali Berkata Keras dan Mengancam Anak

Biasanya tujuan orangtua memang selalu baik. Namun dibalik itu, ada beberapa cara yang perlu diperhatikan. Misalnya saja seperti ucapan keras dan ancaman. Tidak jarang ditemukan orangtua melakukan hal yang demikian dengan maksud supaya anaknya tidak melakukan sesuatu yang berbahaya atau tidak baik.

Namun ketahuilah bahwa anak itu bagaikan kertas putih. Apa yang sedang orangtuanya perlihatkan padanya adalah tinta yang siap menggores kertas itu. jika itu sesuatu yang baik, maka bisa dipastikan anak akan turut menjadi pribadi yang baik. Sebaliknya, jika itu sesuatu yang buruk, akan lebih besar kemungkinan pribadi anak menjadi buruk juga.

Jadi, sebagai orangtua, tetaplah bijaksana dalam memberikan didikan. Apapun alasannya, ancaman terhadap anak bukanlah sesuatu yang baik apalagi dianjurkan. Cobalah memberikan pengalaman dan contoh tindakan yang baik kepada anak.

Mengajarkan Kepada Anak Soal Keterbukaan

Selanjutnya adalah mengajarkan anak untuk selalu bersikap terbuka. Yakinkan anak bahwa orangtua adalah tempat terbaik dalam menceritakan segala sesuatu. Untuk mencapai hal ini, sebisa mungkin orang tua bisa men-sugesti anak bahwa apapun yang akan diceritakannya, orangtua tetap memberikan dukungan.

Guna memaksimalkan hal ini, orangtua perlu bijaksana dalam menggunakan waktu luang. Ajaklah anak untuk berbincang terkait hal-hal yang dialaminya. Tanyakan secara mendetail apa yang sudah ia lakukan selama seharian atau seminggu terakhir. Namun ingat, jangan terlalu memaksanya.Ciptakan suasana perbincangan yang santai. Ikutlah dalam alur ceritanya.

Dalam hal yang demikian inilah orangtua berperan sebagai motivator bagi anaknya. Jika si anak sedang menceritakan permasalahannya, tugas orangtua adalah memberi penguatan sehingga anak bisa bersemangat kembali. Sebaliknya, jika si anak sedang menceritakan kegembiraan, memang sudah sebaiknya orangtua memberikan pujian guna menambah semangat si anak.

Ajarkanlah Anak untuk Bertanggung Jawab

Sikap bertanggung jawab memang tidak datang sendirinya. Perlu binaan terutama dari orangtua sejak usia anak masih kecil. Usia keemasan adalah periode yang sangat cocok untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab kepada anak. Ajarkan ia kedisiplinan dan beritahu terkait tugas-tugas yang harus ia lakukan. Berikanlah pemahaman sesederhana mungkin dan mudah dipahami olehnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here